Aini, masih seperti dulukah engkau, masih berpijakkah engkau di rumah indahmu yang penuh dengan kedamaian hati. Kau membuatku tersadar ketika itu, membuat hidupku yang terasa sepi menjadi hingar bingar penuh dengan cahaya, warna, dan harmonisasi suara yang selalu membuat relung batinku menggeliat mencari-cari kebenaran tentang hidup
yang sebenarnya, yang bisa memberi makna, kebaikan dan manfaat dalam nyata, bukan hanya cahaya, warna maupun suara keterasingan. Kau dan aku memang berbeda, perbedaan yang membuat kita terpisah ribuan mil dari negeri leluhur kita. Aku hidup seperti berada di awang-awang, begitu tinggi hingga bisa kurengkuh semuanya, tapi seakan-akan aku tak berpijak di bumi, hingga aku tak begitu mengenal secara dekat bahwa hidupku begitu beruntung, semantara kau hidup di dasar bumi, hingga kau mengenal semua yang tumbuh di sekitar tubuhmu yang anggun, kau menjadi begitu bermakna dan kau mengenal benar arti keberuntungan.
Dari engkau juga aku akhirnya mengenal tanah leluhurku, Indonesia. Negara yang awalnya aku anggap sebagai sarangnya bencana dan kekisruhan. Tapi kau menyadarkanku akan indahnya negeri ini, akan berbagai keragamannya, potensinya dan keramahan bangsanya. Kau juga memberiku pencerahan tentang keberuntungan yang aku peroleh di negeri asing bersama papa, mama dan
keluargaku yang lain
Setahun lalu aku betemu kau di kota yang sangat sejuk. Masih saja teringat olehku saat aku didera kebingungan, kau menyapaku dengan lembut. Aku juga masih ingat kata-katamu, “Mau sayurannya?” tiba-tiba saja kau sudah berdiri di depanku. “For Free?” aku kaget. Si gadis tersenyum, “Yap! For Free! Gratis alias teu kudu mayar!” Aku mengernyitkan dahi mendengar kalimat terakhir yang agak aneh di telingaku: gratis dan teu kudu mayar! Gratis, aku tahu. Tapi, “teu kudu mayar?” Aku cuma bisa tersenyum dan mengucapkan terima kasih.
Di hari ketiga aku berkesempatan mengunjungi rumahmu. Banyak tanaman hias bergantungan dari tiang-tiang rumah. Kecil dan mungil. Dan aku dibuat tercengang dengan apa yang kudapati di rumah ini. Kau ternyata hanya hidup berdua saja dengan adikmu. Kau bilang orang tuamu sudah tak ada, sungguh aku terhenyak mendapati itu semua hingga tak lagi bisa berfikir bagai mana kau bisa menghidupi diri. “Kami dapat beasiswa. Aku juga nyambi jadi guide. Setiap aku berhasil membawa tamu menginap, aku mendapat komisi”. Aku tercengang. Aku tak mampu berbuat apa-apa. Pertemuanku dengan engkau membuatku seperti berada di dunia lain, yang tidak pernah aku rasakan.
Ada nilai-nilai yang selama ini aku abaikan. Nilai kemanusiaan yang utuh, yang tak pernah aku rasakan di Amerika, bersama teman-teman di kampusku. Bersama dengan Diana, pacarku. Bahkan bersama papa dan mama. Uang begitu mudah aku peroleh dan aku hambur-hamburkan sesuka hati. Aku kembali berfikir tentang semua yang pernah kujalani, bersama papa, mama, teman-temanku juga bersama Diana. Papa adalah seorang pejabat kedutaan yang selalu berganti tugas ke berbagai negara, sementara mama juga sibuk mendampingi papa mengikuti berbagai aktifitas di tempat papa ditugaskan. Karena alasan di atas tersebut aku jadi buta tentang negeri leluhurku, Indonesia.
Sepanjang hidupku, aku baru sekali berpacaran dengan gadis Indonesia. Tapi, Diana bukan gadis Indonesia asli. Dia sudah multikultur dan jauh lebih Amerika ketimbang gadis Amerika sendiri. Dan aku merasa bosan berpacaran dengan Angel. Tak ada sesuatu yang bisa mengisi relung hatinya. Hampa. Semu. Seperti jika dia sedang menenggak bir, lalu mabuk sesaat, bercumbu, orgasme dan tertidur, saat bangun, semua selesai. Tak tersisa. Sementara kau Aini, begitu anggun, kau penuh keriangan dan kesederhanaan. Kau memiliki harga diri yang teramat tinggi, hingga jabatan tanganku saja tak kau terima dengan serta merta, kau hanya merapatkan kedua telapak tanganmu di dada dan tersenyum penuh suka cita, tetapi kau adalah cahaya kehidupan dalam gelapku. Kau memang tak mudah disentuh tapi kau tak ragu memberi penerangan pada kehidupanku, kau seperti pualam, mahal dan tak bisa sembarangan disentuh.
Setahun lalu aku memang tak pernah menyadari apa yang terjadi, tapi saat ini aku begitu rindu sosokmu, begitu rindu senyum cerahmu yang tulus, tawa riangmu yang penuh makna, semangat hidupmu yang begitu bergelora, bukan hanya untukmu tapi untuk semua yang ada disekitarmu. Sungguh aku baru sadar jika aku jatuh cinta padamu, jatuh cinta sejak setahun lalu hingga kini aku ingin kembali bertemu.
Senin, 11 April 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar