Minggu, 10 Oktober 2010

SUARA HATI UNTUK IBU

Kasih ibu sepanjang masa. Ungkapan itu benar
adanya. Aku menyayangi wanita yang telah
melahirkan aku dan membesarkanku. Tapi bukan
dengan baik. Perlakuan ibu padaku hampir seperti
perlakuan pada anak tiri. Atas nama kasih sayang,
disiplin, pembelajaran dan kebenaran, ibu
memukulku bila hatinya mulai panas.
Aku ingat saat usiaku menginjak 5 tahun. Jika aku
nakal, ibu akan mengurungku di dalam kamar
mandi berukuran 2 x 2 meter. Lampunya
dimatikan. Sebelumnya ibu mengguyurku dan
menimpuk kepalaku dengan gayung. Sakit, bu.
Tetapi lebih menakutkan lagi dalam ruang sempit
dan gelap ini. Aku jadi phobia berat.
Itu jadi makananku sehari-hari. Jika aku sudah tak
lagi tahan dengan sikap ibu, aku berlari menuju
pohon cengkeh milik tetangga lain blok. Pohon
cengkeh bagiku adalah mahluk Tuhan yang
sangat perasa. Betulan! Pernah aku menangis
sambil kesakitan sebab dicubit ibu, aku berbicara
pada pohon cengkeh. Entah kebetulan atau tidak,
beberapa buah cengkehnya jatuh di hadapanku.
Aku masih tak mengerti maknanya. Aku artikan
itu air matanya yang jatuh mendengar kisahku.
Kisah aku dan ibuku.
Aku teringat suaramu yang merdu saat
memarahiku. Aku juga teringat sentuhanmu
yang sedikit meninggalkan memar di jidatku. Aku
juga ingat sorot matamu yang lembut
menghujam jantungku. Bu, apa salahku?
Mengapa engkau berbuat ini, sementara aku
sangat menyayangimu, bu?
Bahkan hingga saat ini, aku tak mau menyimpan
dendam padamu. Mana kata-katamu bahwa
kakak dan adikku lebih baik daripada aku? Lebih
sopan dibanding aku. Lebih berperasaan
dibanding aku. Lebih patuh kepada orangtua
dibanding aku. Nyatanya, tak satupun dari
mereka tahu bahwa kau sedang terbaring lemah
di rumah sakit.
Iya, bu. Kau terbaring lemah di hadapanku. AKu
tak berani melangkah masuk ke kamar VIP
tersebut. Aku menatapmu lewat pintu, karena kau
sudah berpesan pada bapak, jangan sampai aku
muncul di hadapanmu. Jika itu yang kukerjakan,
maka kau memilih untuk mati. Kenapa bu?
Kenapa kau menolakku? Apa ibu masih dendam
padaku karena pergi dari rumah? Bukankah ibu
yang mengusirku? Bahkan ini sudah usiran yang
kesekian, baru beberapa bulan kemarin aku berani
untuk melangkah keluar rumah.
Apakah itu biang utama kenapa ibu menolakku?
Jika iya, aku minta maaf, bu. Bukan maksudku
untuk membuatmu kecewa. Tapi aku sudah
besar dan tak tahan menjadi “sesuatu” dan bukan
“seseorang” di rumah ibu dan bapak. Aku
memilih jalanku sendiri. Maafkan aku, bu. Aku
memang durhaka. Aku mau menebusnya. Aku
ikut membantu biaya rumah sakit, mudah-
mudahan beban ibu berkurang.
‘’ La, makasih ya sudah tanggung semua biaya
berobat ibu. Meski kamu yang paling nakal di
antara anak bapak dan ibu, kamu juga yang
paling berhasil dan paling sayang sama bapak
dan ibu. Maafin bapak dan ibu kalau ada salah ya,
La,’’ tutur bapak.
Aku langsung menggeleng. Ini bukan bantuan.
Bantuan sifatnya sukarela. Ini sudah menjadi
kewajiban dan tanggung jawabku sebagai anak.
Mana aku tega melihat ibu terbaring lemah
dengan infus di perutnya dan nafas tersegal di
kerongkongan.
Bu, cepat sembuh ya. Aku sayang ibu. Apapun
yang telah ibu perbuat kepadaku aku telah
memaafkannya, bu. Sebaliknya aku juga minta
maaf jika tak pernah ibu inginkan diriku.
Aku menyayangimu, Bu...
Tiba-tiba aku mendengar bunyi alat penanda
detak jantung ibu telah bergaris lurus. Semua
suster berhamburan mendekati wanita yang
sangat kucintai itu. Dan aku hanya bisa menangis.
Ibu! Bangun!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar